“Apasih
kimia itu? Bagaimana sih kimia bisa ditemukan? Lalu, siapa sih yang menemukan
ilmu tentang kimia?”.
Pernahkah
pertanyaan-pertanyaan di atas terbesit di benak kalian? Lalu apakah kalian
sudah menemukan jawabannya? Sekali lagi
J-A-W-A-B-A-N atas pertanyaan diatas sudahkah kalian menemukannya?
Kimia. Kimia. Kimia. Bagi beberapa orang ilmu yang berkaitan dengan kimia
merupakan ilmu yang mengasyikkan apalagi praktikum tentang kimia di
laboratorium. Namun, beberapa orang lainnya menganggap ilmu kimia itu abstrak,
gaje (ga jelas), misterius, horor
(dalam arti soal-soal kimianya yang sangat mengerikan dan tak terpecahkan), dan
yang terakhir “buat apasih belajar kimia,
bikin capek aja” (anggapan yang paling kronis-_-)
Kimia sama halnya
dengan “MANUSIA”. Jika tak kenal maka tak sayang. Kebanyakan orang yang
membenci kimia pasti telah men-cap pelajaran kimia sebagai pelajaran yang
sangat sulit dibandingkan pelajaran yang lainnya sebelum mereka mempelajarinya
dengan baik. Bagi mereka mendengar kata “KIMIA” saja sudah memberikan efek
merinding apalagi jika harus mempelajarinya pasti akan memberikan efek
kematian(?). Oleh karena itu, kami disini ingin mengajak siapapun yang membaca
ini untuk lebih mengenal kimia, sehingga kimia akan lebih dicintai dimasa depan
(asik!).
Kimia
telah dimulai lebih dari 4000 tahun yang lalu dimana bangsa Mesir mengawalinya dengan
The Art of Synthetic “wet” Chemistry.
Selain itu, pada 1000 tahun sebelum masehi, masyarakat purba telah menggunakan
teknologi yang akan menjadi dasar terbentuknya berbagai macam cabang ilmu
kimia. Seperti ekstrasi logam dari bijihnya, membuat keramik dan kaca,
fermentasi bir dan anggur, membuat pewarna untuk kosmetik dan lukisan, mengekstraksi
bahan kimia dari tumbuhan untuk obat-obatan dan parfum, membuat keju, pewarna,
pakaian, membuat paduan logam seperti perunggu. Namun, mereka tidak berusaha
untuk memahami hakikat dan sifat materi yang mereka gunakan, sehingga pada
zaman tersebut ilmu kimia belum lahir. Tetapi dengan percobaan dan catatan
hasilnya menjadi dasar sebuah langkah menuju ilmu pengetahuan.
Para ahli filsafat Yunani purba sudah mempunyai pemikiran bahwa materi
tersusun dari partikel-partikel yang jauh lebih kecil yang tidak dapat
dibagi-bagi lagi (atomos). Namun
konsep tersebut hanyalah pemikiran yang tidak ditunjang oleh eksperimen,
sehingga belum pantas disebut sebagai teori kimia.
Ilmu kimia sebagai ilmu yang melibatkan kegiatan ilmiah dilahirkan oleh
para ilmuwan muslim bangsa Arab dan Persia pada abad ke-8. Salah seorang bapak
ilmu kimia yang terkemuka adalah Jabir ibnu Hayyan (700-778), yang lebih
dikenal di Eropa dengan nama Latinnya, Geber. Ilmu tersebut diberi nama al-kimiya (bahasa Arab yang berarti
“perubahan materi”). Dari kata al-kimiya
inilah segala bangsa di muka bumi ini meminjam istilah: alchemi (Latin), chemistry
(Inggris), chimie (Perancis), chemie (Jerman), chimica (Italia) dan kimia
(Indonesia).
Alkimiawan menemukan banyak proses kimia yang menuntun pada pengembangan
kimia modern. Seiring berjalannya sejarah, alkimiawan-alkimiawan terkemuka
(terutama Abu Musa Jabir bin Hayyan dan Paracelsus) mengembangkan alkimia
menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan pendekatan yang lebih
sistematik dan ilmiah. Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode
ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dan alkimia adalah Robert Boyle
(1627–1691). Walaupun demikian, kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan
oleh Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) yang menerbitkan bukunya, Traite Elementaire de Chimie. Hal inilah
yang mengawali tumbuhnya kimia modern. Dalam bukunya, Lavoisier mengembangkan
hukum kekekalan massa. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang
mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri
Mendeleyev pada tahun 1869.
Alkimia adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika,
astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisisme, dan agama.Kata alkimia berasal dari
Bahasa Arabal-kimiya atau al-khimiya (الكيمياء atau الخيمياء), yang mungkin
dibentuk dari partikel al- dan kata Bahasa Yunani khumeia (χυμεία) yang berarti
“mencetak bersama”, “menuangkan bersama”, “melebur”, “aloy”, dan lain-lain
(dari khumatos, “yang dituangkan, batang logam”). Etimologi lain mengaitkan
kata ini dengan kata “Al Kemi”, yang berarti “Seni Mesir”, karena bangsa Mesir
Kuno menyebut negerinya “Kemi” dan dipandang sebagai penyihir sakti di seluruh
dunia kuno.[http://id.wikipedia.org/wiki/Alkemi]
Alkimia mulai menyebar melalui Timur Tengah sampai ke Eropa, saat itu
alkimia sangat dipengaruhi oleh pemikiran barat. Alkimia sangat dipengaruhi
oleh ilmuwan-ilmuwan yunani yang menyatakan bahwa materi dapat berubah menjadi
material yang lain yang lebih sempurna. Selama 1500 tahun, tradisional alkimia
mempelajari tetang materi dan perubahannya. Mereka mencari berbagai cara untuk
merubah material yang tidak berharga seperti tembaga menjadi sesuatu yang
sangat bernilai seperti emas (transmutasi logam). Hal ini yang menyebabkan para
ahli alkimia melukis objek-objek tembaga dengan lapisan emas untuk membodohi
para pengikutnya. Banyak penemuan dalam bidang alkimia yang sangat
berarti dalam proses kimia. Destilasi, perkolasi dan ekstrasi adalah beberapa
metode penting yang ditemukan dalam perkembangan alkimia.
Alkimia juga mempengaruhi praktek kedokteran di Eropa. Sejak abad ke-13,
destilasi tanaman herbal telah digunakan untuk pengobatan tradisional.
Paracelsus, seorang ahli alkimia dan fisikawan penting dalam sejarah menyatakan
bahwa tubuh manusia merupakan suatu sistem kimia yang keseimbangan senyawa di
dalamnya dapat digantikan oleh obat-obatan atau perawatan kedokteran. Pengikut
Paracelsus yang kemudian menemukan mineral-drugs
pada abad ke-17.
Selain dalam bidang alkimia dan kedokteran, ilmu kimia juga dipengaruhi
oleh perkembangan teknologi. Selama ribuan tahun manusia mencoba untuk
mengembangkan teknologi yang dapat menghasilkan perubahan material. Pembuatan
tembikar, prose dying dan metalurgi turut memberikan pengaruh terhadap
pemikiran tentang perubahan material. Pada abad pertengahan, teknologi
pembuatan tepung, metalurgi, dan geologi mulai didokumenkan. Banyak buku-buku
yang menjelaskan tentang metode pemurnian, assay dan penggunaan timbangan.
Akar ilmu kimia dapat dilacak hingga fenomena pembakaran. Api merupakan
kekuatan mistik yang mengubah suatu zat menjadi zat lain Api adalah hal yang
menuntun manusia pada penemuan besi dan gelas. Setelah emas ditemukan dan menjadi
logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan metode yang dapat merubah
zat lain menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains yang disebut
Alkimia. Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan
sering mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan protosains.
Kimia umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula
beberapa cabang antar-bidang dan cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.
1.
Kimia analitik adalah analisis cuplikan bahan untuk
memperoleh pemahaman tentang susunan kimia dan strukturnya. Kimia analitik
melibatkan metode eksperimen standar dalam kimia. Metode-metode ini dapat
digunakan dalam semua subdisiplin lain dari kimia, kecuali untuk kimia teori
murni.
2.
Biokimia mempelajari senyawa kimia, reaksi kimia,
dan interaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup. Biokimia dan kimia
organik berhubungan sangat erat, seperti dalam kimia medisinal atau neurokimia.
Biokimia juga berhubungan dengan biologi molekular, fisiologi, dan genetika.
3. Kimia anorganik mengkaji sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik.
Perbedaan antara bidang organik dan anorganik tidaklah mutlak dan banyak
terdapat tumpang tindih, khususnya dalam bidang kimia organologam. Kimia
organik mengkaji struktur, sifat, komposisi, mekanisme, dan reaksi senyawa
organik. Suatu senyawa organik didefinisikan sebagai segala senyawa yang
berdasarkan rantai karbon.
4. Kimia fisik mengkaji dasar fisik sistem dan proses kimia, khususnya
energitika dan dinamika sistem dan proses tersebut. Bidang-bidang penting dalam
kajian ini di antaranya termodinamika kimia, kinetika kimia, elektrokimia,
mekanika statistika, dan spektroskopi. Kimia fisik memiliki banyak tumpang
tindih dengan fisika molekular. Kimia fisik melibatkan penggunaan kalkulus
untuk menurunkan persamaan, dan biasanya berhubungan dengan kimia kuantum serta
kimia teori.
5. Kimia teori adalah studi kimia melalui penjabaran teori dasar (biasanya
dalam matematika atau fisika). Secara spesifik, penerapan mekanika kuantum
dalam kimia disebut kimia kuantum. Sejak akhir Perang Dunia II, perkembangan
komputer telah memfasilitasi pengembangan sistematik kimia komputasi, yang
merupakan seni pengembangan dan penerapan program komputer untuk menyelesaikan
permasalahan kimia. Kimia teori memiliki banyak tumpang tindih (secara teori
dan eksperimen) dengan fisika benda kondensi dan fisika molekular.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar